Rabu, 27 Oktober 2010

Alex Noerdin: Smart, Semuanya Happy

SARANA SEA GAMES XXVI
Sumber :http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=264848

Membangun berbagai sarana olahraga untuk pelaksanaan SEA Games XXVI membutuhkan biaya sangat besar. Namun, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Ir H Alex Noerdin menghadapi itu dengan penuh semangat dan rasa senang (happy).
Alex melibatkan kalangan dunia usaha (swasta), terutama yang beroperasi di Sumsel, untuk membangun berbagai sarana itu dengan sistem built operate transfer (BOT) serta lelang terbuka.
"Dengan sistem ini, tidak ada satu sen pun dana APBD yang terpakai," kata Alex Noerdin kepada wartawan di Palembang, beberapa hari lalu. Ia menegaskan, sepenuhnya ingin menjadikan SEA Games XXVI yang akan digelar November 2011 mendatang sebagai momen untuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Sumsel.
Salah satunya adalah pembangunan Pusat Olahraga dan Bisnis Palembang atau Palembang Sport and Covention Center (PSCC) yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan Jumat (22/10). Pembangunan ini dengan merevitalisasi GOR berusia 40 tahun di Jalan Kampus, Palembang, yang kondisinya tidak bagus lagi.
PT Griya Inti Sejahtera (GISI), yang jadi pemenang tender, akan menggelontorkan dana investasi sebesar Rp 127,6 miliar untuk pembangunan PSCC, dan kompensasinya diberi hak pengelolaan selama 28 tahun.
Bukan berarti selama masa itu, Pemprov Sumsel tidak mendapat apa-apa. Pemprov Sumsel akan mendapat sharing penghasilan pada tahun pertama sebesar Rp 365 juta, kemudian terus meningkat sampai Rp 994 juta hingga akhir tahun perjanjian.
Secara akumulasi, selama 28 tahun, Pemprov akan mengantongi Rp 18,7 miliar. Perinciannya dari sarana olahraga Rp 5,1 miliar, hotel Rp 12,3 miliar, dan town square Rp 1,3 miliar.
Diperkirakan setelah menjadi PSCC, nilai bangunan GOR yang saat ini ditaksir Rp 2,6 miliar, pada 28 tahun mendatang akan meningkat jadi Rp 497,7 miliar. Secara profit, setelah 28 tahun, Pemprov Sumsel akan mendapat PAD Rp 531,4 miliar. Lebih jauh dari itu, keberadaan PSCC bakal menyerap banyak tenaga kerja. PT GISI memperkirakan selama konstruksi akan membutuhkan sekitar 700 tenaga kerja.
Kemudian saat operasional nanti akan menyerap sedikitnya 1.000 pekerja. Begitu pula dengan town square menggunakan sekitar 600 karyawan. Seluruhnya akan menggunakan tenaga lokal.
"Jadi, setelah 28 tahun, PSCC akan menjadi milik Pemprov Sumsel. Dan, kami mendapat revenues sharing setiap tahun yang besarnya dihitung bersama. Jadi, semuanya happy. Tidak ada yang lebih smart dari pembangunan PSCC ini," kata Alex Noerdin pada pemancangan tiang pertama PSCC ini.
Pembangunan PSCC ini diyakini juga akan memberi dampak yang lebih luas. "PSCC ini nanti akan menjadi salah satu instrumen yang efektif bagi kehadiran turis, traders, dan investor ke Sumsel," kata Alex Noerdin.
Awalnya memang tidak semua kalangan menerima langkah Alex Noerdin. Namun, prospek yang tergambar tadi membuat langkah itu menjadi diterima. Terlebih, langkah tadi justru memupus pengeluaran dana APBD.
Pasalnya, pembangunan PSCC dilakukan dengan merevitalisasi bangunan fungsi gedung olahraga (GOR) Selama ini biaya pemeliharaan GOR itu setiap tahunnya menghabiskan dana Rp 226 juta, sementara penghasilan yang masuk untuk PAD setiap tahunnya hanya 66 juta.
"Silakan wartawan masuk ke toilet, mungkin niat buang air kecil bisa tidak jadi. Lebih baik pilih kencing di bawah pohon saja," kata Alex Noerdin.
GOR seluas 25.028 meter persegi itu bakal berubah menjadi gedung sarana olahraga untuk beberapa cabang in door yang dilengkapi dengan hotel, dan town square.
Alex Noerdin juga menegaskan bahwa pembangunan PSCC tidak akan merusak lingungan seperti sempat disorot pihak Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). "Pembangunan PSCC tidak merusak ruang hijau. Di tempat ini juga akan dibuat resapan air agar tidak banjir," katanya. (Djunaedi TA/Dwi Putro AA)

Prima banyak kelemahan


Sports
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Mantan komandan Program Atlet Andalan (PAL) Achmad Sutjipto menegaskan, Program Indonesia Emas (PRIMA) yang dijadikan landasan persiapan atlet ke multi event internasional, banyak kelemahan.

Prima masih membutuhkan banyak koreksi mengingat teori yang dikembangkan tak sejalan dengan realita yang ada. Hal itu diungkapkan Sutjipto saat tampil sebagai pembicara dalam diskusi olahraga bertajuk "Mengurai Benang Kusut Pembinaan Olahraga Nasional" yang digelar Lembaga Pengawas Olahraga Nasional (LPON) di Hotel Century, Jakarta, Selasa.

Sutjipto mencontohkan, untuk bisa menjadi juara umum SEA Games 2011 saat Indonesia menjadi tuan rumah dan mencanangkan perolehan 25 persen medali, kurang sesuai dengan realita yang ada. Terlebih dengan persiapan yang terbilang minim dibandingkan negara pesaing seperti Thailand dan Singapura.

"Pada SEA Games 2009, kita meraup 11 persen medali dan menempati peringkat ketiga. Sedangkan ke SEA Games 2011 diharuskan merebut 25 persen medali. Sementara sistem yang ada di Prima, saya tidak melihat peluang ke arah itu karena ambisi kita tidak disesuaikan dengan kemampuan," ujarnya.

Diskusi panel yang dipandu moderator wartawan olahraga Dede Isharudin ini menghadirkan tiga panelis dan diikuti lebih dari seratus peserta dari berbagai kalangan. Tiga panelis lainnya adalah anggota DPR RI Dudi Gambiro, Deputi Menpora Joko Pekik dan Mulyana dari Satlak Prima.

"Pemerintah tidak boleh running ke dunia olahraga. Mental birokratik tak akan bisa mengelola olahraga karena kebijakannya banyak dipengaruhi kepentingan lain," kritik Sutjipto.

Wartawan olahraga senior Mahfudin Nigara mendukung pernyataan Sutjipto. Menurut Nigara, faktor utama merosotnya prestasi olahraga nasional akibat masuknya ranah politik di olahraga.

“Harus diketahui, ranah politik itu menganut paham 'goal' yang selalu menginginkan kesuksesan tanpa memperhatikan proses yang harus dilalui. Sedangkan olahraga tidak demikian, harus ada proses yang jelas dan terarah melalui pembinaan.

"Untuk meraih sukses di olahraga tidak mengenal istilah instan. Karena itu, wajib ada pemisahan antara olahraga dan politik,” beber Nigara.
(dat08)

Comments

Senin, 25 Oktober 2010

Yakin Sukses di Asian dan SEA Games

JAKARTA – Speedy Tour d’Indonesia 2010 diharapkan menjadi ajang pembibitan calon juara untuk event Internasional seperti Asian Games dan SEA Games. Hal tersebut disampaikan oleh menteri negara pemuda dan olahraga Andi Malarangeng ketika menghadiri acara pembukaan.

Dalam kesempatan tersebut Andi menyampaikan harapan agar ajang balap sepeda bisa jadi olahraga andalan di Asian Games 2010 dan menyumbangkan emas. Selain itu untuk SEA Games 2011, tim balap sepeda Indonesia bisa jadi juara umum.

“Saya antusias dengan acara balap sepeda tahunan ini, saya berharap bisa melahirkan pembalap-pembalap andalan yang mampu membawa Indonesia berjaya di SEA Games dan Asian Games,” ujar Andi.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar yang juga hadir ikut mengamini perkataan Menegpora. Dia ingin indonesia bisa mendulang banyak emas dari balap sepeda di Asian Games 2010 dan SEA Games 2011.

“Untuk ketiga kalinya Speedy Tour d’Indonesia bergulir. Saya juga berharap balap sepeda bisa meraih prestasi tinggi di event Internasional Asian Games dan SEA Games,” tambahnya.
Acara pembukaan tersebut dilanjutkan dengan lomba etape pertama yang dimulai dari Pintu I Senayan dan beputar di Semanggi. (bbs/jpnn)


Sumber :http://www.hariansumutpos.com/2010/10/64489/yakin-sukses-di-asian-dan-sea-games.html


Suryadi berharap lahir atlet berprestasi


Sports
AUSTIN ANTARIKSA TUMENGKOL
Redaktur Olahraga
WASPADA ONLINE


Jakarta - Mantan pegulat nasional Suryadi Gunawan berharap di Kejurnas Gulat Senior di Yogyakarta, 25-29 Oktober ini muncul atlet berbakat yang dapat mengukir medali emas di SEA Games XXVI Jakarta 2011.

"Jika di Kejurnas lahir pegulat handal disetiap kelasnya, maka tim Indonesia meraih juara umum di SEA Games XXVI tidak mengalami kesulitan," kata Suryadi baru-baru ini.

Suryadi mengatakan, nomor yang dipertandingkan di cabang gulat bisa 20 lebih dari nomor grigo romawi dan gaya bebas putra-putri. Bila tim Indonesia mampu meraih 50 persen dari semua kelas yang dipertandingkan, maka juara umum sudah ada ditangan atlet nasional.

Waktu tersisa satu tahun, kata peraih medali emas SEA Games tahun 1987 dan 1997, masih bisa mempersiapkan atlet seoptimal mungkin yang dijaring melalui Kejurnas.

"Apalagi dalam Pelatnas nantinya, para atlet yang masuk tim Pelatnas SEA Games diberikan training camp di Rumania atau di Korsel. Bila atlet nasional berhasil mengukir juara umum di SEA Games XXVI nantinya jangan cepat berpuas diri, karena masih banyak event lain yang menghadang," katanya.

Dengan begitu, paparnya, tim gulat nasional terus berpacu untuk mengembangkan prestasinya menuju multi event Asia. Bila jenjang prestasi dilakukan secara teratur dan berkesinambungan seperti sekarang ini, maka tidak menutup kemungkinan atlet gulat nasional bisa berjaya di tingkat Asia maupun dunia.

Melalui prestasi yang berjenjang itulah, katanya, atlet gulat nasional bisa melangkah ke Olimpiade nantinya. Pembinaan semacam itu yang digariskan dan sudah diterapkan pada kepemimpinan Ketua Umum PB PGSI, Wafid Muharam. Suryadi mengakui, pembibitan dan pembinaan atlet gulat nasional di tanah air memang dimulai dari awal setelah ketinggalan atas atlet Vietnam dan Thailand.

"Tapi semua masih bisa dikejar seperti yang dilakukan PB PGSI sekarang ini dengan menggalakkan pembinaan mulai dasar hingga menyentuh jenjang internasional, minimal SEA Games," katanya.
(dat08/ann)